
Bismillahirrohmanirrohiim…
Kita akan berbicara masalah do’a. Bagi orang islam, berdo’a adalah merupakan perintah dari Allah SWT, yang mana sebagai hambanya kita wajib untuk melaksanakannya. Hal tersebut Sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-qur’an yang artinya “berdo’alah kepadaku, niscaya aku (Allah) akan mengabulkannya".(QS. 40 : 60)
Jika kita menghayati ayat tersebut, maka isi dari ayat tersebut adalah sebuah perintah bagi kita untuk berdo’a kepada Allah SWT. Nah, yang namanya perintah, maka kita melaksankannya pun juga harus karena alasan perintah, bukan hal lain. Namun kebanyakan dari kita, tujuan (hati) kita berdo’a adalah bukan menjalankan perintah Allah. Masih banyak dari kita yang berdo’a, hanya karena mengharapkan sesuatu yang di inginkan oleh hatinya ataupun hawa nafsunya, atau mungkin kita berdo’a hanya pada saat kita mendapatkan suatu masalah yang dirasa sulit untuk dipecahkan oleh akal kita sehingga kita meminta bantuan oleh Allah.
Masih banyak diantara kita yang berdo’a tanpa memandang hakekat do’a sendiri itu apa. Bahkan bukan tidak mungkin juga diantara kita ada yang hatinya merasa tidak terima dengan keputusan Allah, hatinya masih ragu dengan janji-janji Allah (naudzubillah). Hakekat do’a sendiri adalah sebuah perintah atau tugas bagi kita. Nah, yang namanya tugas, kita senantiasa dituntut untuk mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Masalah kapan do’a kita dikabulkan dan dalam bentuk apa do’a kita dikabulkan, itu bukan urusan kita, itu adalah urusan Allah. Hal ini dapat di jadikan permisalan antara MAHASISWA dan DOSEN. Ketika mahasiswa mendapat tugas dari dosen maka tugas seorang mahasiswa adalah mengerjakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Sedangkan masalah benar salahnya, Dosenlah yang memegang kunci jawaban. Kalau sama dosen saja kita berusaha sebaik mungkin untuk mengerjakan tugas tersebut. Bagaimanakah dengan tugas kita terhadap TUHAN??????? Apakah sudah kita laksanakan dengan sebaik mungkin???






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan mampir koment